Sunday, 21 August 2011

Bajaj Mogok

Bajaj Mogok


"Ya Allah, berikanlah kemudahan baginya | Berikan kemudahan rezeki bagi sang supir Bajaj dan keluarganya | Berikan ketenangan hati bagi Istri & keluarga-nya, yang mungkin sedang was-was menantikan kembalinya sang mujahid ke rumahnya"

Sekelibat, terlintas begitu saja do'a di atas ketika aku melihat sebuah bajaj yang mogok di tepi jalan raya. Aku yang hampir saja menggerutu karena jalan yang kulalui terhambat, seketika sirna dan tercurahlah do'a di atas, ketika aku melihat sang sopir bajaj yang sedang sibuk meng-utak-atik bajaj-nya agar bisa hidup kembali.

Memang tak lebih dari sekedar doa yang mampu aku haturkan. Kondisi jalan yang padat tak memungkinkan bagiku untuk menepi di jalan dan bertindak lebih.

Rasa syukur kupanjatkan ke Sang Pencipta yang memberiku kesempatan untuk menikmati perjalanan dengan kesejukan AC atau mendengarkan suara merdu dari radio cassette. Aku tidak perlu berpanas-panas-an atau bersimbah keringat.

Ah, begitu Maha Murah hati-nya Sang Pencipta, yang memberikan umatnya (termasuk diriku)berkesempatan untuk mendapatkan ladang amal.

Semoga do'a yang kusampaikan itu di-ijabah oleh Yang Maha Kuasa.

Amin -


Sent from my Blackberry device powered by Google -

Sunday, 26 December 2010

Pendukung Sejati?

Siapakah teman sejati?

Friendship tested by adversity, persahabatan diuji dgn kemalangan...

Begitu kira2 saya mencoba menggambarkan apa yang terjadi malam ini di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur - Malaysia.

Harimau telah menerkam Garuda. Tidak tanggung-tanggung, 3 gol tanpa balas.

Terlepas dari gangguan sinar laser dari penonton tuan rumah, hasil ini jelas membuat sulit Timnas Indonesia menjadi Juara untuk kali pertama.

Kali ini saya mencoba untuk tidak membahas jalannya pertandingan. Saya lebih tertarik untuk menyoroti para pemain ke-12, alias penonton/pendukung.

Seperti tulisan yang saya susun sebelumnya, (prestasi) sepakbola menjadi katalis perekonomian. Ekses yang timbul dari geliat ekonomi ini adalah munculnya para fans dadakan. Para new buyers, dengan kemampuan beli yang dahsyat turut merubah equilibrium pasar.

Ya, dengan meningkatnya permintaan, jelas harga akan naik. Kondisi ini terjadi dan terbukti. Harga jersey laku keras, scarcity terjadi shg harga naik. Tiket pun begitu.

Salah satu sisi buruk "ekonomi" sepakbola adalah yang seperti ini. Melulu keuntungan dan keuntungan. Sepakbola menjadi kehilangan esensi-nya. Sepakbola menjadi kehilangan roh-nya. Sungguh tidak menarik bila orang yang mampu menonton di stadion adalah orang2 yang punya duit tetapi tidak mempunyai passion di sepakbola.

Sungguh ironis.

Padahal, atmosfir stadion itu sangat luar biasa berbeda. Jujur, ketika mendengar dan turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, alam bawah sadar ini mendorong bulu kuduk berdiri dan merinding. Ada "hal" lain yang hadir saat itu.

Memang akan sangat manis bila tim kesayangan kita menjelma menjadi juara. Memang betul, kita sangat mengharapkan oasis di tengah gersangnya prestasi Timnas Indonesia.

Tetapi, bila anda adalah pendukung sejati...
Tidak peduli apakah Indonesia menjadi juara atau bukan...
Tidak akan anda lepaskan baju Garuda atau atribut Merah Putih yang sudah anda beli...
Tidak akan lepas semboyan Garuda di Dadaku...

* Demi sepakbola Indonesia *

* Gambar di atas diambil di bulan Mei 2010 (jauh sebelum heboh AFF Cup)saat acara pertemuan (re)asuransi internasional) di sebuah pulau kecil di Malaysia --- #GarudaDiDadaku