Friday 18 June 2010

Melacak Warisan Islam di Tiongkok

Melacak Warisan Islam di Tiongkok

Kamis, 19 Maret 2009, 11:33 WIB

Sebuah kabar tak sedap berembus dari Negeri Tirai Bambu. Umat Islam di Xinjiang sebuah daerah otonom yang berbatasan dengan Tibet--dilarang otoritas Cina untuk menunaikan shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan. Tak cuma itu, mengunakan jilbab bercadar dan sorban pun menjadi hal terlarang bagi delapan juta umat Muslim Uighur yang tinggal di wilayah barat daya Xinjiang, Republik Rakyat Cina (RRC), itu.

Perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam itu tentu saja sungguh sangat tak adil. Padahal, umat Islam yang tinggal di negeri itu sejak abad ke-7 M telah menyumbangkan sederet warisan penting bagi peradaban bangsa Cina. Sejarah mencatat, Islam yang dikenal sebagai Yisian Jiabao (agama yang murni) juga telah memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat Tiongkok yang multietnis.

Peradaban Islam di Cina mulai memiliki pengaruh yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan pada era kekuasaan Dinasti Mongol Yuan (1274 M-1368 M). Dikuasainya sebagian besar wilayah Eurasia pada abad ke-13 M telah membawa dampak yang luas bagi tradisi Cina dan Persia. Ketika itu, dua peradaban berbaur menjadi satu dalam satu kekaisaran.

Penguasa Dinasti Mongol Yuan mengangkat status imigran Muslim menjadi Cina Han. Dinasti Yuan pun mendatangkan ratusan ribu imigran Muslim dari wilayah Barat dan Asia Tengah untuk memperluas wilayah dan pengaruh kekaisaran. Di era itulah, umat Islam memberi pengaruh yang begitu besar dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Cina.

Anthony Garnaut, seorang pakar hubungan antara Cina dengan kebudayaan Islam dalam tulisannya berjudul, The Islamic Heritage in China: A General Survey, memaparkan sumbangan Islam di negeri itu. ''Islam telah memberi pengaruh yang cukup besar dalam teknologi, ilmu pengetahuan, filsafat, dan seni di Cina,'' papar Garnaut.

Menurut Garnaut, salah satu pengaruh umat Islam yang paling tampak di Cina adalah dalam bidang arsitektur. Peradaban Islam banyak memberi warna dalam motif hiasan serta kaligrafi. Menurut catatan sejarah, bangunan masjid pertama kali dibangun pada abad ke-7 M di era kekuasaan Dinasti Tang (618 M-907 M). Uniknya, arsitektur bangunan masjid ini mengikuti arsitektur tradisional Cina.

Paling tidak ada tiga jenis arsitektur masjid di dataran Cina. Di bagian barat Cina, arsitektur masjid menggunakan elemen-lemen seperti yang digunakan di bagian dunia yang lain. Salah satu cirinya; memiliki menara dan kubah. Namun, di belahan timur Cina, bangunan masjid justru tampak seperti pagoda. Sedangkan di barat laut Cina, masjid Muslim Uighur memadukan arsitektur Timur dan Barat.

Saat ini, tak kurang terdapat 45 ribu masjid di Cina. Lima masjid yang paling populer di antaranya; Masjid Niujie yang berada di Beijing dibangun pada 996 M; Masjid Huaisheng di Guangzhou; Masjid Kowloon dan Islamic Center di Kowloon, Hong Kong, dibangun pada 1896; Masjid Id Kah di Kashgar Xinjiang; serta Masjid Agung Xi'an di Xi'an, Shaanxi. Arsitektur bangunan masjid di Cina dikenal dengan keindahannya.

Peninggalan Islam lainnya yang masih bertahan di negeri Tiongkok itu adalah makam dua dari empat sahabat Rasulullah SAW yang berada di kaki Gunung Lingshan. Tempat itu dikenal sebagai "Makam Suci" tempat Sa-Ke-Zu dan Wu-Ko-Shun, dua sahabat Nabi Muhammad, dimakamkan. Mereka adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Cina. Hingga kini, makam itu masih tetap terpelihara.

Salah satu jasa penting peradaban Islam lainnya di era kekuasaan Dinasti Yuan adalah pembangunan kota bernama Khanbaliq. Kota itu dibangun oleh para seniman dan insinyur serta tukang batu yang didatangkan dari negeri-negeri Islam di Asia Tengah. Selain itu, seorang insinyur Muslim bernama Amir al-Din juga tercatat telah mendesain Pulau Qionghua kini berada di sekitar danau Taman Beihai di pusat Kota Beijing.

Peradaban Cina juga mengenal tulisan indah yang dikenal di dunia Muslim sebagai kaligrafi. Seni menulis indah khas Islam itu di Cina dikenal dengan nama Sini. Karya-karya Sini itu banyak digunakan di masjid-masjid yang berada di timur Cina. Seniman kaligrafi Sini terkemuka bernama Hajji Noor Deen Mi Guangjiang.

Selain itu, peradaban Islam sempat memegang peran penting dalam pemerintahan di negeri Tirai Bambu. Di era kekuasaan Dinasti Ming, umat Muslim pun masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388 M, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu, muncul Laksamana Cheng Ho--seorang pelaut Muslim andal.

Menurut Garnaut, perdaban Islam juga telah memberi pengaruh dalam dunia kedokteran Cina. Umat Islam di negeri itu telah memelopori pendirian rumah sakit pertama, hu yah wo yuan, pada 1277 M. Selain itu, buku kedokteran Cina yang direvisi pada era kekuasaan Dinasti Song pada 1056 M dan 1107 M banyak mengambil dari buku kedokteran yang ditulis Ibnu Sina.

Yang tak kalah penting, Islam pun cukup dominan memengaruhi seni kuliner Cina yang dikenal dengan aneka masakannya yang lezat. "Makanan halal yang bisa diterapkan umat Islam sejak dahulu masih cukup berpengaruh," papar Garnaut, ilmuwan alumnus Australian National University, di Melbourne itu.

Dalam bidang seni kuliner, masakan halal tak terlalu sulit untuk ditemukan di kota-kota besar di Cina. Sebab, banyak restoran maupun tempat makan di Cina yang dikelola orang Muslim. Bahkan, sudah ada provinsi yang mengeluarkan sertifikat makanan beku yang halal, yakni dari Provinsi Jiangsu.

Garnaut juga memaparkan bahwa budaya menulis juga merupakan salah satu warisan peninggalan peradaban Islam di daratan Cina. Aneka macam peninggalan budaya itu masih bertahan hingga sekarang. Dalam bidang astrologi dan astronomi, peradaban Islam juga sangat besar pengaruhnya di Cina.

Prof Li Hua Ying dalam tulisannya bertajuk, Islamic Heritage of Muslims in China, menambahkan, pada abad ke-17 M, Islam masih memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat di daratan. "Umat Muslim bersama dengan suku Han telah membantu Cina pada masa-masa senang dan susah," papar Prof Li. Umat Islam, papar Li, juga telah turut berjasa mewujudkan perdamaian di wilayah perbatasan.

Prof Li juga menilai, umat Islam di Cina pada abad ke-17 M juga sangat berjasa memperbaiki perekonomian dan mengembangkan pengetahuan keagamaan. Pada era itu, buku-buku Islam tentang linguistik, filsafat, fikih, akhlak, sejarah, dan pemikiran serta tradisi Cina dalam bahasa klasik Han begitu banyak diterbitkan.

"Penulis seperti Ma Chu (1640 M-1711 M), Leo Tse (1660 M-1730 M), dan Chang Chung (1584 M-1670 M) dengan produktif menghasilkan karya-karyanya, tak hanya menerjemahkan dari bahasa Arab dan Persia," ungkap Prof Li. Buku-buku Islami itu lalu disinkronisasi dengan sistem pengajaran dan filosofi Confucius. Para sarjana Muslim seperti Wang Dai Yu dan Liu Tsi di era kekuasaan Dinasti Ming dan Chen, telah memberi pengaruh pada pemikiran filasafat Cina. N heri ruslan

Pengaruh Islam dalam Wushu dan Kungfu

Siapa yang tak kenal Wushu dan Kungfu? Ya, olahraga bela diri asal Cina itu begitu mengagumkan. Gerakan-gerakannya sungguh indah sekaligus mematikan. Di balik nama besar dan popularitasnya, ternyata peradaban Islam di Cina banyak memberi sumbangan dan pengaruh yang sangat penting bagi kedua olahraga bela diri itu.

Wushu berasal dari kata Wu berarti ilmu perang dan Shu bermakna seni. Sumbangan peradaban Islam dalam Wushu mulai terjadi di era kekuasaan Dinasti Yuan. Ketika itu, umat Islam memiliki pengaruh yang besar dalam pemerintahan. Pengaruh itu kian menguat ketika Dinasti Ming didirikan Kaisar Zhu Yuanzhang, seorang jenderal yang beragama Islam.

Dinasti Ming memiliki enam orang komandan perang Muslim yang gagah. Mereka adalah Chang Yuchun, Hu Dahai, Mu Ying, Lan Yu, Feng Sheng, dan Ding Dexing. Semua komandan perang dari Dinasti Ming itu adalah para master Wushu. Mereka banyak memberi pengaruh dalam jurus-jurus Wushu.

Ketika kekuasaan beralih ke Dinasti Qing, para master Wushu yang beragama Islam banyak menemukan dan mengembangkan jurus-jurus dalam Wushu, seperti bajiquan, piguazhang, dan liuhequan. Pusat Wushu Muslim di Cina berada di Kabupaten Cangzhou, Provinsi Hebei. Dari kota itu telah lahir master Wushu Muslim yang sangat termasyhur bernama Wang Zi Ping atau Wu Zhong (1881 M-1973 M).

Selain memberi pengaruh yang besar dalam olahraga Wushu, peneliti Cina bernama Mohammed Khamouch dalam tulisannya berjudul, The Legacy of Muslim Kung Fu Masters, memaparkan warisan Islam dalam seni bela diri yang dikuasai aktor Jet Lee itu. Menurut Khamouch, para master kungfu Muslim telah menanamkan sebuah filosofi penting dalam seni bela diri asal Cina itu.

Filosofi itu berasal dari sebuah hadis Rasulullah SAW. Empat belas abad lampau Nabi Muhammad pernah bersabda, "Manusia yang kuat bukanlah orang yang membanting orang lain dalam sebuah perkelahian. Manusia yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." Hikmah yang dimasukan para kungfu master Muslim itu melahirkan apa yang disebut sebagai "Chi" (energi dalam).

Dengan menguasai Chi, seorang ahli kungfu mampu menjinakkan nafsu dan sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya. Selain itu, dengan memiliki Chi, seseorang akan dengan lebih mudah menguasai seni bela diri kungfu. "Para master kungfu Muslim telah berhasil mengharmonisasi bentuk internal maupun eksternal dalam seni bela diri itu," papar Khamouch.

Salah satu seni bela diri warisan peradaban Islam di Cina yang dikenal di Tanah Air adalah Thifan Po Khan. Seni bela diri ini sejenis kungfu yang dikombinasi dengan bela diri lainnya. Ciri Islamnya, bela diri yang satu ini sudah dibersihkan dari unsur-unsur kesyirikan dan kejahiliyahan. Konon, seni bela diri yang dikembangkan umat Islam di Cina itu mulai berkembang pada abad ke-7 M.

Secara bahasa, Thifan Po Khan berarti pukulan tangan bangsawan. Disebut demikian karena gerakan-gerakan dalam thifan relatif halus dibandingkan bela diri serumpunnya, seperti Syufu Taesyu Khan. Sehingga, bela diri yang halus ini dianggap cocok untuk para bangsawan. Di negeri asalnya, Thifan merupakan olahraga bela diri kalangan pesantren-pesantren yang lazim disebut lanah. Seni bela diri ini masuk ke Nusantara pada abad ke-17 M. Thifan sempat menjadi bela diri resmi kerajaan di Aceh, saat Sultan Iskandar Muda berkuasa.

Penulis : hri

REPUBLIKA - Kamis, 18 September 2008


* repost dari republika.co.id

No comments:

Post a Comment

Please feel free to comment....